Selasa, 27 Januari 2015

Christopher dan Remaja Penyalahguna Narkoba

Oleh : Samsul Anwar (Pemerhati masalah Narkoba dan HIV AIDS, bekerja di BNN Kota Cimahi)

Adalah benar ketika Presiden Jokowi mengatakan bahwa tahun 2015 adalah darurat Narkoba. Sebagai bukti kedaruratannya, beliau menolak grasi dari terpidana mati narkoba dan  memerintahkan eksekusi mati 6 terpidana dalam kasus Narkoba. Kebijakan tersebut mengundang rekasi pro dan kontra di masyarakat termasuk dari Negara asal para bandar tersebut.
 Begitu menariknya, sehingga berita terkait eksekusi mati bandar narkoba menjadi headline news semua media di Indonesia dalam minggu ini. Bahkan sampai saat ini perbicangannya masih sering terlihat, terdengar dan dibaca di media masa. Dan sebelum kabar tersebut kedaluarsa, tiba-tiba muncul lagi kejadian yang melibatkan narkoba sebagai isu utamanya.
 Sebagaimana diberitakan banyak media, pada hari selasa pukul 20.00 WIB telah terjadi kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan tewasnya 4 orang di Pondok Indah Jakarta. Polisi kemudian menetapkan Cristopher (C), pengendara mobil Mitsubishi Outlander, sebagai tersangka. Diduga tersangka mengkonsumsi narkoba. Dugaan tersebut terbukti setelah BNN mengetes urin yang hasilnya positif mengkonsumsi narkoba jenis LSD.
 Usia C masih muda, 22 tahun. Semakin menguatkan hasil peneltian BNN dan Puslitkes UI tahun 2011 yang menemukan bahwa remaja sebagai penyalahguna narkoba urutan kedua setelah pekerja. Dalam penelitian tersebut diperkirakan sebanyak 22 % dari 4,2 juta penyalahguna narkoba di Indonesia adalah remaja baik yang tinggal dengan orang tua maupun yang ngekos (BNN, 2011)
 Bagaimana dengan status penyalahgunaan narkoba C? Kalau didasarkan pada informasi berbagai media, yang bersangkutan kemungkinan besar drug abuser. Hal itu bisa dilihat dari waktu dan situasi penyalahgunaan narkobanya. Diperkirakan pelaku menyalahgunakan narkoba pada pukul 17:30 bersama temannya kemudian hang out. (megapolitan.kompas.com)
 Dalam konteks drug abuser, seseorang mengkonsumsi narkobanya pada saat tertentu saja. Misalnya pada saat pesta, bertemu teman, dsb. Penanda lain seorang drug abuser adalah keterlibatannya dalam kecelakaan lalu lintas yang dipengaruhi oleh penyalahgunaan narkoba (Shannon & Ames, 2010).
 Seberapa lama C menyalahgunakan narkoba? Apabila menganalisa informasi dan mengkaitkannya dengan tahapan penyalahgunaan narkoba sampai pada drug abuser, kemungkinan yang bersangkutan sudah menyalahgunakan narkoba sejak beberapa waktu kebelakang. Tetapi dugaan tersebut perlu dibuktikan dengan asesmen terkait riwayat penyalahgunaan narkobanya.

 Mengapa C, mengapa remaja menyalahgunakan narkoba? Sejatinya jawaban tersebut bisa didapatkan secara ilmiah dalam penelitian BNN tahun 2011. Namun karena metode yang digunakan dalam penelitian tersebut, tidak bisa menjawab misteri dibalik penyalahgunaan narkoba oleh remaja.
 Apabila mencermati teori social bond/social control (Hirschi, 1969) mengatakan bahwa kejahatan (juga dalam isu penyalahgunaan narkoba) terjadi karena hilangnya social control dalam diri pelaku sebagai akibat dari retaknya social bond antara dia dan lingkungannya.
 Ada 4 tipe social bond menurut Hirschi. Pertama,  Attachment.  Attachment yang paling penting adalah antara remaja dengan orang tua, teman sebaya dan sekolah. Menurut Hirschi, attachment yang dekat antara remaja dengan teman sebaya, orang tua dan sekolah mempunyai level social bond/social control yang sangat baik. Dengan kata lain, jika kelekatan sosialnya renggang kemungkinan remaja terlibat dalam perilaku melawan hukum semakin besar.


Kedua commitment. Hirschi memandang pentingnya hubungan sosial yang orang nilai, mereka tidak ingin mengambil resiko yang membahayakan diri dengan melakukan kejahatan dan perbuatan menyimpang. Pada intinya, Hirschi mencatat bahwa orang cenderung untuk berbuat jahat ketika mereka mengetahui bahwa mereka kehilangan sesuatu. Orang akan menahan diri dari keterlibatannya dalam kejahatan ketika memiliki konsekwensi kehilangan pekerjaan dan keretakan pernikahan. Social bond seperti ini yang dapat dijadikan sebagai social control.

 Ketiga dikenal dengan involvement. Tipe ini berhubungan dengan harga sebuah kesempatan terkait dengan bagaimana orang menghabiskan waktu. Hirschi berasumsi bahwa mereka yang memanfaatkan waktunya dalam kegiatan-kegiatan prosocial tidak akan menghabiskan waktunya dalam kegiatan anti social. Misalnya, remaja yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan dikordinir sekolah tidak akan menghabiskan waktunya, minimal pada saat bersamaan, untuk kegiatan yang melawan hukum.

 Tipe terakhir dikenal dengan belief. Tipe ini mengacu kepada sejauh mana seseorang menganut nilai-nilai yang berhubungan dengan perilaku yang sesuai dengan hukum. Diasumsikan bahwa semakin penting nilai-nilai untuk seseorang, semakin kecil kemungkinan dia terlibat dalam perilaku kejahatan.

 Pembuktian teori social bond/social control telah disajikan dalam banyak penelitian sebelumnya dengan beragam disiplin ilmu. Meskipun begitu, dalam konteks Indonesia, kemungkinan-kemungkinan adanya faktor kebajikan sosial (Social Capital) bisa juga mempengaruhi misteri penyalahgunaan narkoba C dan remaja lainnya. Tetapi paling tidak, teori social bond/social control bisa juga dijadikan bahan kajian dalam penyusunan program Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba pada kelompok remaja. Masyarakat tentunya sangat berharap tidak ada lagi kasus seperti C dan remaja lainnya.

Jumat, 29 Agustus 2014

Kenapa Asap Rokok Lebih Bahaya dari Asap Kendaraan?

Jakarta, Kadang masyarakat bertanya kenapa asap rokok lebih diperhatikan dibanding dengan asap yang keluar dari kendaraan. Hal ini karena asap rokok lebih berbahaya dibandingkan asap kendaraan. Kenapa begitu?

"Tentu semua memang berbahaya, tapi polutan dari asap kendaraan lebih sedikit kandungan yang berbahayanya, kalau tidak salah tidak sampai 10 seperti karbon monoksida, sulfur dan nitrogen," ujar dr H Azimal, MKes selaku Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes dalam acara temu media menyambut Hari Tanpa Tambakau Sedunia dengan tema: Melalui Regulasi terbaik, Kita Lindungi Generasi Muda dari Bahaya Merokok di gedung Kemenkes, Jumat (27/5/2011).

Sedangkan berbagai studi menjelaskan bahwa di dalam asap rokok mengandung lebih dari 4.000 bahan kimia racun (toksik) dan 43 senyawa penyebab kanker (karsinogenik). Hal ini yang menjelaskan mengapa asap rokok lebih berbahaya dibanding asap kendaraan.

Selain itu bukti-bukti ilmiah juga telah menunjukkan hubungan antara rokok dengan terjadinya berbagai penyakit seperti kanker, penyakit jantung, penyakit sistem saluran pernapasan, penyakit gangguan reproduksi dan juga kehamilan.

"Asap rokok itu kalau ditiupkan ke meja agak susah hilangnya karena dia lengket, jadi bagaimana jadinya jika asap itu masuk ke dalam paru-paru yang makin lama bisa makin banyak jumlahnya," ungkapnya.

dr Azimal menuturkan lebih dari 43 juta anak Indonesia hidup serumah dengan perokok dan terpapar asap rokok atau sebagai perokok pasif. Jika anak-anak ini sering terpapar asap rokok maka ia bisa mengalami pertumbuhan paru yang lambat, lebih mudah terkena bronchitis, infeksi saluran pernapasan, telinga dan asma.

"Misalnya dalam satu rumah bapaknya merokok dan ada bayi, maka bayi tersebut bisa saja mengalami gangguan pertumbuhan," ujar dr Azimal.

Diperkirakan bau asap rokok yang susah hilang ini karena asap rokok terbuat dari rantai molekul yang panjang, sehingga butuh waktu yang lama atau sulit untuk dihilangkan terutama pada kain. Selain itu asap rokok yang dihasilkan umumnya mengandung banyak zat atau residu.

Banyaknya dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari asap rokok bagi kesehatan seseorang itulah yang membuat asap rokok lebih mendapatkan perhatian, meski begitu bukan berarti asap kendaraan tidak berbahaya karena di dalamnya tetap mengandung senyawa yang beracun bagi tubuh. (SAM)
Sumber : http://health.detik.com/read/2011/05/27/170333/1648786/763/kenapa-asap-rokok-lebih-bahaya-dari-asap-kendaraan

Ini Bedanya Kanker Paru pada Perokok dan Nonperokok

Philadelphia, Perokok dan nonperokok sama-sama punya risiko terkena kanker paru. Bedanya tak cuma seberapa besar risikonya, jenis kanker yang menyerang pada kedua kelompok tersebut pun ternyata tidak sama.

Sebuah studi pada tahun 2010 yang dilakukan oleh peneliti dari BC Cancer Research Center, Kanada, mengatakan ada perbedaan genetik antara kanker paru pada perokok dengan kanker paru nonperokok. Penelitian dilakukan dengan cara mengambil sampel tumor dari 30 nonperokok, 39 perokok, dan 14 mantan perokok. Sampel kemudian diteliti dengan seksama terutama terkait dengan susunan DNA (Deoxyribo Nucleic Acid).

Kandidat PhD, Kelsie Thu sebagai peneliti mengatakan ada perbedaan DNA dua kali lipat lebih banyak pada tumor kanker nonperokok dibandingkan dengan tumor kanker perokok. Hal ini menurutnya menunjukkan bahwa kanker paru antar dua kelompok tersebut berbeda.

"Kami pikir temuan ini memberikan bukti bahwa nonperokok dan perokok memiliki kanker paru-paru yang berbeda. Mungkin kanker muncul melalui jalur molekul yang berbeda," ujar Thu seperti dikutip dari livescience, Jumat (29/8/2014).

Thu mengatakan ada faktor lain yang dapat dijadikan bukti bahwa kanker paru muncul dengan cara yang berbeda pada dua kelompok pasien kanker tersebut. Kanker paru pada nonperokok memiliki karakteristik seperti banyak muncul pada wanita, memiliki tumor khusus bernama adenocarcinoma, dan adanya mutasi pada epidermal growth factor receptor (EGFR).

"Hasil temuan ini diharapkan dapat membantu kita untuk lebih memahami biologi yang mendasari perkembangan kanker paru-paru pada nonperokok," tutup Thu.(SAM)
Sumber : http://health.detik.com/read/2014/08/29/141538/2676165/763/ini-bedanya-kanker-paru-pada-perokok-dan-nonperokok

Psikolog: Bau Rokok Bisa Jadi Stimulus Anak untuk Ikut Merokok

"Ini bau apa sih? Oh bau rokok. Rokok apa sih? Gimana sih cara pakainya?" terang Ratih ketika memberikan gambaran tentang bagaimana rokok dapat mempengaruhi anak.

Diakui Ratih bahwa ia termasuk orang yang tidak tahan dengan bau rokok. Bahkan di kliniknya terdapat larangan bukan saja untuk tidak boleh merokok, namun juga tidak boleh berbau rokok, siapapun itu. Ratih mengisahkan bahwa salah satu karyawannya ada yang sempat tercium bau rokok dari pakaiannya. Saat itu juga ia meminta karyawan tersebut untuk mandi dan membersihkan diri.

Hal yang sama juga berlaku di rumahnya. Meski jarang, suaminya pun termasuk orang yang merokok jika sedang berada dalam lingkungan perokok. Namun kebiasaan itu baru muncul setelah anak mereka mencapai usia 14 tahun.

"Suamiku termasuk sociosmoker, jadi dia merokok ketika berada di lingkungan perokok saja. Tapi tetap tidak boleh ketika di dalam rumah. Itu pun dia patuhi setelah anakku usianya 14 tahun," terangnya.

Oleh sebab itu, Ratih pun menganggap orang tua yang dengan sengaja merokok di dalam rumah atau ketika berada dekat anak adalah orang yang jahat.

"Perokok kan sudah tahu bahaya rokok untuk dirinya sendiri dan orang di sekitarnya. Tapi kalau sudah tahu seperti itu masih merokok juga, apa bukan jahat namanya?" ujar Ratih dengan gaya ceplas-ceplosnya.(SAM)
Sumber : http://health.detik.com/read/2014/03/24/085345/2534249/763/2/psikolog-bau-rokok-bisa-jadi-stimulus-anak-untuk-ikut-merokok

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Blogger Codes